Entri Populer

Sabtu, 12 Mei 2012

Sediaan Apus darah


A. JUDUL PERCOBAAN
Sediaan Apus darah

B. TUJUAN
  1. Mengetahui cara membuat sediaan apus darah
  2. Membuat sediaan apus darah
  3. Mengetahui cara memeriksa sediaan apus darah
  4. Mengetahui gambaran berbagai jenis sel darah
  5. Mengetahui cara menghitung jenis sel darah
  6.  Memeriksa sediaan apus darah

C. TINJAUAN TEORI
Darah adalah sejenis jaringan ikat yang sel-selnya (elemen pembentuk) tertahan dan dibawa dalam matriks cairan (plasma). Darah lebih berat dibandingkan air dan lebih kental. Cairan ini memiliki rasa dan bau yang khas, serta pH 7,4 (7,35-7,45). Warna darah bervariasi dari merah terang sampai merah tua kebiruan, bergantung pada kadar oksigen yang dibawa sel darah merah (Sloane, 2003).
Volume darah total sekitar 5 liter pada laki-laki dewasa berukuran rata-rata dan kurang sedikit pada perempuan dewasa. Volume ini bervariasi sesuai ukuran tubuh dan berbanding terbalik dengan jumlah jaringan adiposa dalam tubuh. Volume ini juga bervariasi sesuai perubahan cairan darah dan konsentrasi elektrolitnya (Sloane, 2003).
Lebih dari separuh bagian dari darah merupakan cairan (plasma), yang sebagian besar mengandung garam-garam terlarut dan protein. Protein utama dalam plasma adalah albumin. Protein lainnya adalah antibodi (imunoglobulin) dan protein pembekuan. Plasma juga mengandung hormon-hormon, elektrolit, lemak, gula, mineral dan vitamin. Selain menyalurkan sel-sel darah, plasma juga:
  1. merupakan cadangan air untuk tubuh
  2. mencegah mengkerutnya dan tersumbatnya pembuluh darah
  3. membantu mempertahankan tekanan darah dan sirkulasi ke seluruh tubuh.
Bahkan yang lebih penting, antibodi dalam plasma melindungi tubuh melawan bahan-bahan asing (misalnya virus, bakteri, jamur dan sel-sel kanker), ketika protein pembekuan mengendalikan perdarahan. Selain menyalurkan hormon dan mengatur efeknya, plasma juga mendinginkan dan menghangatkan tubuh sesuai dengan kebutuhan (Sherwood,2002).

Pada dasarnya darah memiliki tiga fungsi utama yaitu membantu pengangkutan zat-zat  makanan, perlindungan atau proteksi dari benda asing, dan mengatur regulasi kandungan air jaringan, pengaturan suhu tubuh, dan pengaturan pH. Terdapat tiga macam unsur seluler darah, yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit.

1.    Sel darah merah (eritrosit).
 Menurut Sloane (2003), eritrosit merupakan diskus bikonkaf, bentuknya bulat dengan lekukan pada sentralnya dan berdiameter 7,65 µm. Eritrosit terbungkus dalam membran sel dengan permeabilitas tinggi. Membran ini elastis dan fleksibel, sehingga memungkinkan eritrosit menembus kapiler (pembuluh darah terkecil). Setiap eritrosit mengandung sekitar 300 juta molekul hemoglobin, sejenis pigmen pernapasan yang mengikat oksigen. Volume hemoglobin mencapai sepertiga volume sel.
Eritrosit merupakan sel yang paling banyak dibandingkan dengan 2 sel lainnya, dalam keadaan normal mencapai hampir separuh dari volume darah. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa karbon dioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali ke paru-paru.
2.    Sel darah putih (leukosit)
Jumlahnya lebih sedikit, dengan perbandingan sekitar 1 sel darah putih untuk setiap 660 sel darah merah. Terdapat 5 jenis utama dari sel darah putih yang bekerja sama untuk membangun mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi, termasuk menghasilkan antibodi. Dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk nukleus, dan ada tidaknya granula sitoplasma. Sel yang memiliki granula sitoplasma disebut granulosit sedangkan sel tanpa granula disebut agranulosit.
a.    Granulosit
1)    Neutrofil
Juga disebut granulosit karena berisi enzim yang mengandung granul-granul, jumlahnya paling banyak. Neutrofil membantu melindungi tubuh melawan infeksi bakteri dan jamur dan mencerna benda asing sisa-sisa peradangan. Ada 2 jenis neutrofil, yaitu neutrofil berbentuk pita (imatur, belum matang) dan neutrofil bersegmen (matur, matang).
Menurut Sloane (2003), neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah muda dalam sitoplasmanya. Nukleusnya memiliki tiga sampai lima lobus yang terhubungkan dengan benang kromatin tipis. Diameternya mencapai 9 µm samapai 12 µm.
2)    Eosinofil
Eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar, dengan pewarnaan oranye kemerahan. Sel ini memiliki nukleus berlobus dua, dan berdiameter 12 µm sampai 15 µm. Berfungsi sebagai fagositik lemah. Jumlahnya akan meningkat saat terjadi alergi atau penyakit parasit, tetapi akan berkurang selama stress berkepanjangan. Selain itu eosinofil juga membunuh parasit, merusak sel-sel kanker dan berperan dalam respon alergi.
3)    Basofil
Basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma besar yang bentuknya tidak beraturan dan akan berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan nukleus berbentuk S. diameternya sekitar 12 µm sampai 15 µm. Basofil juga berperan dalam respon alergi. Sel ini mengandung histamin.
b.    Agranulosit
1)    Limfosit
Limfosit merupakan sel utama pada sistem getah bening yang berbentuk sferis, berukuran yang relatif lebih kecil daripada makrofag dan neutrofil. Selain itu, limfosit bergaris tengah 6-8 µm, 20-30% dari leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit cekung pada satu sisi. Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan azurofiliknya sedikit. Limfosit-limfosit dapat digolongkan berdasarkan asal, struktur halus, surface markers yang berkaitan dengan sifat imunologisnya, siklus hidup dan fungsi (Efendi, 2003).
Limfosit dibagi ke dalam 2 kelompok utama (Farieh, 2008):
1.    Limfosit B berasal dari sel stem di dalam sumsum tulang dan tumbuh menjadi sel plasma, yang menghasilkan antibodi
2.    Limfosit T terbentuk jika sel stem dari sumsum tulang pindah ke kelenjar thymus, dimana mereka mengalami pembelahan dan pematangan.
Di dalam kelenjar thymus, limfosit T belajar membedakan mana benda asing dan mana bukan benda asing. Limfosit T dewasa meninggalkan kelenjar thymus dan masuk ke dalam pembuluh getah bening dan berfungsi sebagai bagian dari sistem pengawasan kekebalan.
2)    Monosit
Monosit merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai 20 µm atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda. Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa bim abu-abu pada sajian kering. Granula azurofil, merupakan lisosom primer, lebih banyak tapi lebih kecil. Ditemui retikulim endoplasma sedikit. Juga ribosom, pliribosom sedikit, banyak mitokondria. Apa ratus Golgi berkembang dengan baik, ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada daerah identasi inti. Monosit terdapat dalam darah, jaringan ikat dan rongga tubuh. Monosit tergolong fagositik mononuclear (system retikuloendotel) dan mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya. Untuk imunoglobulin dan komplemen (Efendi, 2003).

Tipe
Gambar
Diagram
%dalam tubuh
Keterangan
65%
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah.
4%
Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit.
<1%
Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.
25%
Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit:
·         Sel B: Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori'.)
·         Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) sarta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD8+ (sitotoksik) dapat membunuh sel yang terinfeksi virus.
·         Sel natural killer: Sel pembunuh alami (natural killer, NK) dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker.
6%
Monosit membagi fungsi "pembersih vakum" (fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan: memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk menjaga.
(lihat di atas)
Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke dalam jaringan.

3.    Platelet (trombosit).
Merupakan paritikel yang menyerupai sel, dengan ukuran lebih kecil daripada sel darah merah atau sel darah putih. Sebagai bagian dari mekanisme perlindungan darah untuk menghentikan perdarahan, trombosit berkumpul dapa daerah yang mengalami perdarahan dan mengalami pengaktivan. Setelah mengalami pengaktivan, trombosit akan melekat satu sama lain dan menggumpal untuk membentuk sumbatan yang membantu menutup pembuluh darah dan menghentikan perdarahan. Pada saat yang sama, trombosit melepaskan bahan yang membantu mempermudah pembekuan (Junquiera,1997)).
Sediaan apus darah adalah suatu sarana yang digunakan untuk menilai berbagai unsure sel darah tepi, seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit. Selain itu dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi adanya parasit seperti malaria, mikrofilaria, dan lain-lain. Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang terbaik merupaka syarat mutlak untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik.
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler atau vena dengan atau tanpa EDTA. Sediaan yang disimpan tanpa difiksasi terlebih dulu tidak dapat dipulas sebaik sediaan segar. Kebanyakan cara memulas sediaan darah menggunakan prinsip Romanowski, seperti Wright, Giemsa, May-Grunwald-Biemsa atau Wright-Giemsa (Murtiati dkk, 2010).


Tabel berikut menggambarkan batasan waktu maksimum yang diijinkan :
- Kadar hemoglobin                                         stabil
- Jumlah leukosit                                                             < 2 jam
- Jumlah eritrosit                                              < 6 jam
- Nilai hematokrit                                                             < 6 jam
- Laju endap darah                                          < 2 jam
- Jumlah trombosit                                           < 1 jam
- Retikulosit                                                       < 6 jam
- Sediaan apus darah tepi                              < 1 jam

Nilai normal beberapa komponen sel dalam darah manusia
Sel
Sel/mikroLiter (rata-rata)
Kisaran Normal
Persen sel darah putih total
Leukosit total
9000
4000-11000

Neutrofil
5400
3000-6000
50-70
Eusinofil
275
150-300
1-4
Basofil
35
0-100
0,4
Limfosit
2750
1500-4000
20-40
Monosit
540
300-600
2-8
Eritrosit wanita
4,8x106
. . .
. . .
Eritrosit pria
5,4x106
. . .
. . .
Trombosit
300.000
200.000-500.000
. . .

D. METODOLOGI
  • Alat:
            -Alat suntik                                        - mikroskop
            -Gelas objek (2 buah)                      - pipet
            -Gelas penutup                                - cawan petri (2 buah)
  • Bahan:
            -Darah vena EDTA              - larutan Giemsa
            -Metanol                                - aquadest
            -Alkohol 70%
  • Cara kerja
A.   Membuat Sediaan Apus Darah
1.    Mengambil darah vena dan mencampurkan dengan EDTA, lalu meneteskan 1 tetes darah dengan menggunakan pipet (garis tengah tetesan tidak lebih dari 2 mm). Meletakkan gelas objek tersebut di atas meja dengan tetes darah di sebelah kanan.
2.    Mengambil objek lain yang digunakan sebagai kaca penghapus, memilih yang bertepi benar-benar rata.
3.    Meletakkan kaca penghapus di sebelah kiri tetesan darah dengan tangan kanan, menyentuhkan kaca pada tetesan darah dan membiarkannya hingga darah menyebar ke seluruh sisi kaca tersebut. Menunggu sampai darah mengenai titik ½ cm dari sudut kaca.
4.    Mengatur sudut kaca penghapus antara 30° - 40° dan segera Menggerakkan kaca ke arah kiri sambil memegangnya dengan sudut. Jangan menekan kaca pembesar itu ke bawah. Mengusahakan darah telah habis sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari gelas objek. Hapusan darah tidak boleh terlalu tipis atau terlalu tebal. Ketebalan dapat diatur dengan mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan menggeser. Makin besar sudut atau makin cepat menggeser, makin tipis hapusan darah yang dihasilkan. Membiarkan sediaan kering di udara.
5.    Meletakkan sediaan yang akan dipulas di atas rak tempat memulas dengan lapisan darah ke atas.
6.    Meneteskan methanol ke atas sediaan itu, sehingga bagian yang terlapis darah tertutup seluruhnya. Membiarkan selama 5 menit atau lebih lama.
7.    Menuang kelebihan methanol dari kaca.
8.    Meliputi sediaan itu dengan Giemsa yang telah diencerkan dengan larutan penyanggah dan membiarkan selama 20 menit. Membilas dengan air suling.
9.    Meletakkan sediaan dalam sikap vertikal dan membiarkan mengering pada udara.
B.   Memeriksa Sediaan Apus Darah
1.    Meneteskan satu tetes minyak emersi pada bagian sediaan apus yang baik untuk diperiksa dan menutup dengan kaca penutup (Deck Glass).
2.    Melihat sediaan dengan pembesaran lemah (lensa objektif 10x dan lensa okuler 10x) untuk mendapat gambaran menyeluruh.
3.    Memperhatikan penyebaran sel-sel darah yang telah cukup merata, dan jumlah leukosit dan kelompok trombosit.
4.    Selanjutnya melihat dengan lensa objektif 40x dengan pembesaran ini diberikan penilaian terhadap eritrosit, leukosit, trombosit, dan ke lain-lain yang ada.
5.    Bila diperlukan melakukan penilaian lebih lanjut pada sediaan apus dengan menggunakan lensa objektif 100x menggunakan minyak emersi dengan menyingkirkan kaca penutup, mendorongnya ke tepi dan mengangkatnya. meneteskan 1 tetes minyak emersi pada sediaan apus, menggunakan objektif yang sesuai.
6.    Melakukan penilaian terhadap ukuran, bentuk, warna eritrosit. Penilaian dilakukan pada daerah pandangan dimana eritrosit terletak saling berdekatan tetapi tidak saling menumpuk, jangan menilai pada tempat dimana eritrositnya jarang-jarang.
7.    Melakukan penilaian terhadap jumlah, dihitung jenis dan morfologi leukosit. Saat dilakukan hitung jenis leukosit, sediaan digerakkan sedemikian rupa sehingga satu lapang pandang tidak dinilai lebih dari satu kali. Mencatat semua jenis leukosit yang dijumpai. Perlu diingat bahwa kebenaran perihitungan jenis sel dipengaruhi oleh jumlah total sel yang dihitung, mengikuti hukum Poisson. Makin banyak leukosit yang dihitung, makin kecil kesalahan yang terjadi. Biasanya perhitungan dilakukan atas 100 leukosit.
8.    Melakukan penilaian terhadap jumlah dan morfologi trombosit. Dalam keadaan normal dapat dijumpai 4 – 8 trombosit per 100 eritrosit.

E. HASIL
Sel Darah
Deskripsi
Persentase
Eritrosit
Bentuk bulat bikonkaf tanpa inti, berwarna ungu bening,berukuran kecil.
Tipe a.
70%
Leukosit
Bentuk bulat dengan inti di tengah berbentuk agak memanjang, berwarna bening dengan inti berwarna ungu gelap.
Tipe e.
10%
Trombosit
Berbentuk bulat dengan ukuran yang sangat kecil.
20%

  1. Eritrosit
  1. Leukosit
  1. Trombosit
 

F. PEMBAHASAN
Praktikum mengenai sediaan apus darah kali ini bertujuan untuk mengamati dan menilai berbagai unsure sel darah pada manusia seperti sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Berdasarkan Murtiati, dkk (2010), sediaan apus darah juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya parasit seperti malaria, microfilaria, dan lain-lain. Namun pada praktikum kali ini hanya dilakukan pengamatan untuk mengetahui deskripsi bentuk dari berbagai sel darah dan menilai persentase sel darah yang teramati.
Sediaan apus darah dilakukan dengan menggunakan bahan darah segar yang berasal dari kapiler atau vena OP. OP pada praktikum ini adalah nurhayati. Pertama praktikan mengambil darah dari ujung jari telunjuk tangan kiri menggunakan blood lancet atau slat suntik kemudian mencampurkannya dengan EDTA supaya tidak cepat membeku. Setelah itu praktikan menaruhnya ke kaca objek. Kemudian menyentuhkan kaca penutup ke tetesan darah hingga darah melebar. Selanjutnya membentuk sudut 30-400 dengan kaca penutup, lalu digerakkan ke kiri membentuk apusan darah yang tidak terlalu tipis ataupun terlalu tebal karena jika terlalu tebal maka saat pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat tidak jelas karena sel darah bertumpuk.
Setelah mendapat sediaan yang bagus (tidak tebal dan tipis), maka membiarkannya hingga kering, setelah itu meneteskan metanol ke atas sediaan hingga bagian yang terlapisi darah tertutup semuanya dan membiarkannya selama 5 menit. Fungsi metanol adalah untuk memfiksasi darah sehingga darah tidak hilang saat diamati. Selanjutnya sediaan diteteskan dengan giemsa yang telah diencerkan dengan air dan membiarkannya selama 20 menit dan membilasnya dengan air dan mengeringkannya. Fungsi giemsa adalah untuk mewarnai darah sehingga mudah dibedakan dan dapat terlihat jelas saat diamati. Waktu perendaman ini sebaiknya jangan terlalu lama karena darah bisa tidak terlihat akibat pewarnaan yang terlalu pekat.
Selanjutnya setelah sediaan apus darah telah selesai, maka dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop untuk memeriksa sediaan apus darah. Sebelum pengamatan sediaan apus darah diteteskan minyak emersi terlebih dahulu, tujuan pemberian minyak emersi ini yaitu untuk mencegah kerusakan pada mikroskop. Dengan perbesaran lemah (100x), praktikan hanya melihat bulat-bulat kecil yang sangat banyak dan belum terlihat jelas perbedaan antara leukosit, eritrosit dan trombosit.
Setelah menggunakan pembesaran 400x, praktikan menemukan ukuran eritrosit yang kecil , berbentuk bulat bikonkaf tidak berinti, dan berwarna ungu bening. Warna ungu ini akibat pewarnaan dengan giemsa, sehingga warna darah yang semula merah, setelah diamati di mikroskop berubah menjadi ungu. Hal ini sesuai dengan literatur yaitu eritrosit berbentuk cakram bikonkaf atau cakram pipih, sel tidak berinti dan tidak punya organel seperti sel-sel lain. Eritrosit berukuran sekitar 7,5µm dan bagian pusat lebih tipis dan lebih terang dari bagian tepinya. Selain itu, eritrosit mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk mentransport O2 (Dikaamelia, 2008).
Pembentukan eritrosit atau eritropoiesis terjadi di sumsum merah yang terletak pada tulang belakang, sternum (tulang dada), tulang rusuk, tengkorak, tulang belikat, tulang panggul serta tulang-tulang anggota badan (kaki dan tangan). Eritrosit berumur pendek. Tidak adanya inti pada eritrosit menyebabkan eritrosit tidak mampu mensintesis protein untuk tumbuh, atau untuk memperbanyak diri (Dikaamelia, 2008). Namun dengan tidak adanya inti pada eritrosit dan dengan bentuk yang berupa bikonkaf maka eritrosit memiliki kemampuan yang optimal dalam mengikat oksigen sehingga kebutuhan akan oksigen menjadi terpenuhi. Itu sebabnya apabila seseorang menderita penyakit sel sabit, yaitu penyakit yang disebabkan karena struktur eritrositnya berbentuk seperti bulan sabit, memiliki kemampuan mengikat oksigen yang lebih sedikit sehingga membuat penderita menjadi anemia dan lemah.
Pada pengamatan di praktikum ini tidak ditemukan eritrosit yang berbentuk selain bikonkaf, itu artinya OP tidak menderita kelainan struktur eritrosit. Kelainan pada struktur eritrosit dapat disebabkan karena faktor genetika ataupun lingkungan.
Kemudian didapatkan beberapa jenis leukosit, namun praktikan tidak mampu mengidentifikasinya apakah termasuk basofil, eosinofil, batang, neutrofil, limfosit ataupun monosit. Hal tersebut karena keterbatasan pembesaran pada mikroskop yang digunakan sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas bentuk dari inti sel leukosit tersebut. Penggolongan leukisit menjadi 5 macam merupakan penggolongan berdasarkan ukuran sel, bentuk nukleus, da ada tidaknya granula sitoplasma sehingga perlu pengamatan yang lebih teliti dan perbesaran mikroskop yang baik serta dapat pula dibantu dengan menggunakan minyak emersi.
Berdasarkan referensi, sel neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah muda dalam sitoplasmanya. Nukleusnya memiliki tiga sampai lima lobus yang terhubungkan dengan benang kromatin tipis. Diameternya mencapai 9 µm samapai 12 µm. Sel eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar, dengan pewarnaan oranye kemerahan. Sel ini memiliki nukleus berlobus dua, dan berdiameter 12 µm sampai 15 µm. Berfungsi sebagai fagositik lemah. Sedangkan basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma besar yang bentuknya tidak beraturan dan akan berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan nukleus berbentuk S. diameternya sekitar 12 µm sampai 15 µm (Sloane, 2003).
Untuk kelompok leukosit yang merupakan agranulosit yaitu lomfosit dan monosit, diperoleh data berdasarkan refernsi bahwa limfosit bergaris tengah 6-8 µm, 20-30% dari leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit cekung pada satu sisi. Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan azurofiliknya sedikit (Efendi, 2003). Sedangkan monosit merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai 20 µm atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda (Efendi, 2003).
Menurut referensi yang kami peroleh, jenis sel darah putih yang paling banyak adalah netrofil dengan presentase sebesar 50-70 %, sedangkan yang paling sedikit adalah basofil, yaitu 0,1-0,4 %.
Monosit berfungsi untuk membunuh bakteri, fungsi monosit ini sama dengan neutrofil, hanya jumlahnya saja yang berbeda. Jumlah monosit yang tinggi menunujukkan disel sedang terjadi infeksi. Berdasarkan pengamatan, jumlah monsit sedikit, sehingga neutrofilpun kurang aktif dalam merespon perusakan jaringan. Dengan kata lain, jumlah neutrofil dalam darah yang seharusnya mempunyai kadar/jumlah yang tinggi dalam darah menjadi menurun jumlahnya. Limfosit berfungsi sebagai elemen kunci dalam respon kekebalan tubuh. Kadar limfosit yang banyak diduga karena sedikitnya jumlah neutofil dalam darah. Sehingga untuk mempertahankan kekebalan tubuh, maka limfositlah yang bekerja secara aktif.
            Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah. Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit. Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.
Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit yaitu Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori'). Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi ) serta penting untuk menahan bakteri intraseluler. Sel natural killer merupakan sel pembunuh alami (natural killer, NK) yang dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi atau telah menjadi kanker.
            Sedangkan trombosit yang teramati yaitu trombosit berukuran sangat kecil terlihat seperti titik atau bercak yang berada di luar sel dan berwarna ungu. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa trombosit adalah sel darah tak berinti, berbentuk cakram dengan diameter 1 - 4 mikrometer dan volume 7 – 8 fl.. Nilai normal trombosit bervariasi sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit normal menurut Deacie adalah 150 – 400 x 109 / L. Bila dipakai metode Rees Ecker nilai normal trombosit 140 – 340 x 109/ L, dengan menggunakan Coulter Counter harga normal 150 – 350 x 109/L.
            Dari ketiga macam sel darah yang teramati diperoleh persentasenya yaitu eritrosit sebanyak 70% dari lapang pandang yang diamati, leukosit sebanyak 10% dan trombosit sebanyak 20%. Berdasarkan referensi juga disebutkan bahwa persentase sel darah merah (eritrosit) pada tubuh merupakan yang paling besar. Sedangkan leukosit memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada sel eritrosit. Dalam Sloane (2003), disebutkan bahwa jumlah eritrosit pada laki-laki sehat mencapai 4,2 hingga 5,5 juta sel per mm3 dan sekitar 3,2 hingga 5,2 juta per mm3 pada wanita sehat, sedangkan jumlah normal leukosit adalah 7000 sampai 9000 per mm3 dan trombosit berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm3. Hal tersebut sesuai dengan hasil pengamatan yaitu jumlah eritrosit > trombosit > leukosit. Meskipun berjumlah paling sedikit dari ketiga sel darah yang ada, fungsi leukosit pada tubuh sangat penting, dimana dalam keadaan sakit atau terserang benda asing maka jumlah leukosit dapat meningkat.

G. KESIMPULAN
  1. Cara pembuatan sediaan apus darah pada praktikum kali ini adalah menggunakan prinsip Romanowski dengan Giemsa.
  2. Cara yang digunakan yaitu dengan menggunakan darah vena OP dan mencampurkannya dengan EDTA. Darah yang sudah diteteskan pada kaca objek selanjutnya diapus dengan menggunakan kaca penutup dengan membentuk sudut 30-400 dengan segera menggeserkannya ke kiri. Setelah mendapat sediaan yang bagus yaitu tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal maka dibiarkan hingga kering, setelah itu meneteskan metanol ke atas sediaan hingga bagian yang terlapisi darah tertutup dan membiarkannya selama 5 menit. Setelah itu meliputi sediaan dengan giemsa yang telah diencerkan dengan air dan membiarkannya selama 20 menit dan bilas dengan air dan mengeringkannya.
  3. Proses pemeriksaan sediaan apus darah dilakukan dengan meneteskan setetes minyak emersi pada bagian apus darah. Dengan perbandingan lemah (10x), praktikan hanya melihat bulat-bulat kecil yang sangat banyak dan belum terlihat jelas perbedaan antara leukosit, eritrosit dan trombosit. Kemudian praktikan menggunakna lensa objektif 40x dan dengan perbesaran ini.Untuk mendapatkan hal lainnya, lensa objek dapat diperbesar hingga 100 x.
  4. Hal yang diamati pada eritrosit yaitu ukuran, bentuk, dan warna. Pada leukosit, yang diamati yaitu jumlah, jenis, dan morfologi. Serta pada trombosit, yang diamati yaitu morfologi.
  5. Cara menghitung jenis sel darah yaitu dari ujung kiri bawah kaca objek ke atas dan mencari hingga terdapat 10 jenis sel darah, kemudian menggesernya ke kanan dan menghitungnya dari bawah ke atas hingga berjumpa 10 sel darah lagi, dan seterusnya hingga terdapat 100 leukosit (secara zig-zag). Diperoleh persentase eritrosit sebesar 70%, leukosit 10% dan trombosit sebesar 20%.
  6. Ukuran eritrosit kecil, berbentuk bulat bikonkaf tidak berinti, dengan warna ungu bening. Leukosit berbentuk bulat berinti di tengah dengan warna ungu. Sedangkan trombosit berukurab sangat kecil terlihat seperti titik berwarna gelap.

H. DAFTAR PUSTAKA
Ganong, William F. 1999. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. Jakarta: ECG.
Lauralee, Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. EGC: Jakarta.
Murtiati, Tri dkk. 2010. Penuntun Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Jakarta.
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka  Utama.
Sherwood, Lauralee. 1996. Fisiologi Manusia. Jakarta: ECG.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar